Jumat, 13 Oktober 2017

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI EKSPRAM BASGAM

(Arman Riyadi, S.Pd, M.Pd)


              Pembelajaran di sekolah dikatakan berhasil apabila setelah proses belajar dapat memberikan perubahan tingkah laku dan keterampilan peserta didik. Untuk menjadikan manusia pandai dan pintar, boleh jadi mudah melakukannya, tetapi menjadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan bijak dalam bersikap, tampaknya tidaklah mudah bahkan sangat sulit. Dengan demikian, sangat wajar apabila dikatakan bahwa masalah moral merupakan persoalan mendarah daging yang menemani kehidupan manusia.
              Semakin merosotnya kualitas moral dalam kehidupan manusia Indonesia sekarang ini, terutama di kalangan siswa, menuntut diselenggarakannya atau diterapkannya pendidikan karakter. Sekolah dituntut bergerak cepat dan tepat untuk memaksimalkan peran serta tanggungjawabnya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik dan membantu para siswa membentuk dan membangun karakter mereka dengan nilai-nilai yang baik. Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan pada nilai-nilai tertentu seperti kerjasama, patuh, tanggungjawab, jujur, disiplin, rasa hormat, peduli, dan adil serta membantu siswa untuk memahami, mendalami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sendiri
              Pendidikan karakter berperan penting dalam membentuk kepribadian anak.  Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya dalam mengimplementasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
              Banyak sekolah dasar di Indonesia sudah melaksanakan program pendidikan karakter baik secara tersirat maupun tersurat. Namun, dampak nyata dari pendidikan karakter dirasa masih kurang sehingga sekarang pemerintah melakukan upaya terobosan agar pendidikan karakter bisa dilaksanakan secara konsisten oleh sekolah dengan mengeluarkan Perpres yang mengatur tentang penguatan pendidikan karakter. Penguatan pendidikan karakter adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (Perpres RI nomor 87 tahun 2017).
              Penguatan pendidikan karakter salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler.  Ekstrakurikuler adalah kegiatan pengembangan karakter dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian peserta didik secara optimal (Perpres RI nomor 87 tahun 2017). Di SD Negeri 1 Karangkobar yang menjadi instansi kerja penulis beralamat di Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjarnegara juga melaksanakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh banyak siswa.  
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran sekolah, biasanya dilakukan di sekolah atau di luar sekolah dengan tujuan untuk menyalurkan bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki siswa secara mendalam. Melalui kegiatan ekstrakurikuler peserta didik dapat menemukan, menggali, dan mengembangkan potensinya serta mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. Kegiatan ekstrakurikuler di SD Negeri 1 Karangkobar dikelompokkan menjadi kegiatan ekstrakurikuler wajib dan kegiatan ekstrakurikuler pilihan. Kegiatan ekstrakurikuler wajib adalah kegiatan yang wajib diselenggarakan oleh sekolah dan wajib diikuti oleh seluruh peserta didik yaitu ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan.
Dalam Kurikulum 2013, Pendidikan Kepramukaan ditetapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib. Hal ini mengandung makna bahwa pendidikan kepramukaan merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang tersusun secara sistemik sebagai wahana penguatan psikologis sosial kultural. Ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan bertujuan agar peserta didik memiliki jiwa karakter kuat baik spiritual dan sosial, mantap kebangsaan dan kenegaraan Indonesia, dan kokoh kecakapan diri sehingga peserta didik kelak mampu hidup ditengah-tengah masyarakat dengan baik. Kegiatan ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan akan membiasakan peserta didik untuk bersikap dan berperilaku positif. Pendidikan Kepramukaan dinilai oleh beberapa pihak sangat penting untuk mendukung ketercapaian tujuan pendidikan nasional sesuai dengan amanat Sisdiknas. Sesuai dengan Permendikbud Nomor 63 tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib dalam pelaksanaan ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan dikemas dalam tiga model yaitu model blok, aktualisasi, dan reguler dengan rambu-rambu yang ditentukan.
Ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan di SD Negeri 1 Karangkobar yang sudah berjalan selama ini lebih memaksimalkan model aktualisasi yakni pelaksanaan rutin, terjadwal, diikuti oleh peserta didik, penjadwalan, dan penilaian formal. Model aktualisasi yang diterapkan di SD Negeri 1 Karangkobar pada prakteknya dikolaborasikan dengan permainan atau berbasis game. Banyak game yang dapat digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan, game dapat digunakan untuk membantu menyampaikan materi pramuka atau menyegarkan kembali jiwa peserta didik. Melalui game unsur pendidikan karakter sangat ditonjolkan. Banyak game yang diterapkan pada kegiatan ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan antara lain:

1.        BARISAN OKE
Tujuan : Agar peserta didik bisa bekerja sama dalam kelompok dan melatih kemampuan baris berbaris.
Langkah-langkah :
Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok yang sama jumlahnya (bila jumlah peserta ganjil, seorang pembina masuk dalam salah satu kelompok). Pembina menjelaskan aturan permainan, sebagai berikut;
a. Ketua kelompok akan berlomba menyusun barisan, barisan disusun berdasarkan aba-aba pembina yaitu bisa berdasarkan merk sepatu, bulan kelahiran, tinggi badan, usia, dan seterusnya.
b.    Pembina akan menghitung sampai 20, kemudian kelompok-kelompok yang sudah berkumpul segera baris berbanjar dengan lencang depan. Apabila sudah rapi bisa duduk jongkok.
c.    Setiap kelompok secara bergantian harus memeriksa apakah kelompok lawan melaksanakan tugasnya dengan benar.
d.   Kelompok yang menang adalah kelompok yang melaksanakan tugasnya dengan benar dan cepat (bila kelompok dapat menyelesaikan tugasnya sebelum hitungan ke 20 mereka boleh langsung baris berbanjar untuk menunjukan bahwa mereka telah selesai melakukan tugas).
Sebelum game ini dimulai bisa diuji coba terlebih dahulu untuk memastikan apakah aturan mainnya sudah dipahami oleh peserta didik dengan benar.

2.        TANGKAP BELUT
Tujuan: melatih indra pendengaran peserta didik dan melatih peserta didik untuk bertindak cepat dan tepat.
Langkah-langkah:
a.    Buatlah sebuah lingkaran besar sehingga peserta didik bisa saling melihat.
b.    Tangan kanan diangkat ke atas pundak kanan dengan posisi telapak tangan membuka ke atas.
c.    Tangan kiri jari telunjuknya mengarah ke bawah
d.   Selanjutnya telunjuk kiri diletakkan di atas tangan kanan teman sebelahnya.
e. Pembina memberi arahan, kakak akan bercerita tentang seorang anak pramuka yang berpetualang di sawah. Apabila kalian mendengar kata BELUT maka tangan kanan kamu langsung menangkap tangan kiri temanmu yang ada di atas tangan kananmu.
f.   Pemenangnya adalah peserta yang paling banyak berhasil menangkap tangan kiri teman atau menangkap belut.

3.        JARING IKAN
Tujuan: melatih kedisiplinan anak dan kerja sama kelompok. Lebih tepat digunakan untuk anak-anak pramuka siaga. Untuk kelompok-kelompok anak siaga disebut barung.
Posisi awal  : Bebas. Lapangan dibatasi dengan garis panjang 30 m dan lebar 20 m.
Langkah-langkah:
a.    Tunjuk satu barung dan dibagi 2 kelompok bergandengan tangan, menjadi “jaring”.
b.    Anak yang lain menjadi ikan, berlari bebas di lapangan yang sudah ditentukan.
c.    Dengan bekerjasama ke 2 jaring berusaha menangkap ikan yang sebanyak-banyaknya.
d.   Yang tertangkap berdiri di luar lapangan. Tiap 5 menit, jaringnya diganti barung yang lain. Anak yana di luar ikut jadi ikan/main lagi. Setelah semua barung mendapat giliran menjadi jaring game atau permainan dihentikan.
Penilaian: Perolehan Ikan tiap barung dihitung. Yang paling banyak mendapat Ikan menjadi juara.
4.        HITAM DAN HIJAU
Tujuan: untuk melatih siswa untuk bergerak cepat, tepat, dan disiplin.
Posisi awal : Selat behadap-hadapan di belakang masing-masing barisan dengan jarak 14 m, diberi garis batas/tonggak.
Langkah-langkah:
a.    Anak-anak bermain dalam bentuk selat berhadap-hadapan yang kiri diberi nama Hitam, yang kanan diberi nama Hijau.
b.  Pembina memberi aba : Hi...tam atau Hi...jau. Apabila Pembina memberi aba Hitam, maka barisan sebelah kiri cepat balik kanan dan lari menuju batas/tonggak.
c.  Barisan kanan cepat mengejar dan menepuk barisan kiri, yang kena di tepuk harus berhenti. Anak yang sampai di batas/memegang tonggak dihitung.
d.   Permainan diulang lagi. Dalam memberi aba-aba tidak harus urut, boleh juga menyebut kata  lain, misalnya raja atau ratu, rumah atau rusuk, untuk menjebak anak-anak.
Penilaian : Selesai bermain dihitung barung/regu yang paling banyak anggotanya itulah juaranya.

5.        MAWAR TERBANG
Tujuan: melatih fisik dan keberanian peserta didik.
Posisi awal  :  Lingkaran besar. Sebelum game atau permainan, pembina bisa menyisipkan materi tentang kepramukaan. Misal sandi-sandi, simpul-simpul, semaphore, dan sebagainya. Permainan ini lebih cenderung cocok digunakan untuk anak pramuka penggalang.
Langkah-langkah:
a.     Peserta didik berpegangan dua-dua, muka belakang rapat, jarak pasangan satu dengan yang lain 4 m. seorang dari kelompok A dan kelompok B menjadi mawar yang terbang. Kedua anak ini siap di tengah lingkaran. Satu dengan yang lain jaraknya 4 m.
b.    Dengan aba-aba dari Pembina pramuka, B berlari menempel salah satu pasangan di depannya. A segera mengejar dan menepuk atau menyentuh B, sebelum menempel pada salah satu pasangan. Bila B menempel pada salah satu pasangan sebelum kena, maka anak yang di belakang yang ditempel B harus lari dan pindah menempel di depan pasangan lain. Demikian seterusnya.
c.     Bila yang lari kena tepuk, maka mereka mejadi pasangan mawar baru. Pembina menunjuk lagi 2 orang, 1 dari regu C dan satu lagi dari regu D, untuk menjadi mawar yang akan saling mengejar. Permainan diteruskan bila anak yang di kejar terlalu jauh meninggalkan lingkaran, dianggap telah kena tepuk.
Penilaian  :  Anak yang dapat menepuk mendapat angka 1, yang di tepuk nilainya kurang 1. Regu yang mendapat nilai terbanyak menang.

Manfaat yang benar-benar kami rasakan dari ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan berbasis game ini yaitu karakter anak-anak semakin meningkat dari disiplinnya, kerja samanya, kejujurannya, kebersamaannya, dan kekompakannya. Siswa-siswi SD Negeri 1 Karangkobar juga sering mengikuti berbagai kegiatan kepramukaan baik di tingkat kecamatan, kabupaten, karisidenan, dan provinsi. Prestasi yang sangat membanggakan yaitu berhasil menjuarai lomba pramuka pesta siaga pada tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2016.



Gambar 1. Kegiatan Pendidikan Kepramukaan SD Negeri 1 Karangkobar

Gambar 2. Kegiatan Pramuka Siaga Pangkalan SD Negeri 1 Karangkobar

Gambar 3. Berbagai Kejuaraan Kepramukaan diraih SD Negeri 1 Karangkobar

















Selasa, 22 Maret 2016

SD Negeri 1 Karangkobar Juara 2 Pesta Siaga Karisidenan Banyumas

Gambar 1.1 Foto Peserta dengan Pelatih 
sebelum lomba

Gambar 1.2  Barung Biru Putra Juara 2 
Pesta Siaga Karisidenan Banyumas

Gambar 1.3 Foto Bersama Peserta, Pelatih, 
Kepala Sekolah dan Dewan Guru


Prestasi SD Negeri 1 Karangkobar Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Banjarnegara

           Tepat pukul 16.00 WIB pasukan Barung Biru Putra dan Putri SD Negeri 1 Karangkobar beserta staf guru berangkat menuju Purwonegoro untuk transit sebelum melaksanakan lomba Pesta Siaga Kwartir Cabang Banjarnegara yang dilaksanakan tepatnya pada tanggal 29 Februari 2016 di Purwonegoro. Dengan antusiasnya, orangtua dari siswa-siswi mengantar putra-putrinya menuju SD Negeri 1 Karangkobar. Harapan bergantung pada benak setiap orangtua siswa-siswi  yang berharap putra-putrinya dapat memperoleh juara. 
              Dengan kelancaran dan tanpa halangan suatu apapun, tepat pukul 18.00 saat adzan magrib berkumandang merekapun sampai di tempat transit yaitu rumah Pak Didik yang merupakan salah satu guru di kecamatan Karangkobar. Wajah ceria tampak menghiasi setiap raut muka siswa-siswi. Saat waktu menunjukan pukul 21.00 WIB merekapun beristirahat agar esok harinya bisa bangun dengan keadaan tubuh yang fit.
            Adzan Subuh berkumandang, saatnya untuk bangun sholat dan mandi. Sebelum berangkat mereka sarapan dan tepat pukul 07.00 WIB mereka berangkat menuju lapangan tempat diselenggarakannya lomba. Sesampainya disana, mereka melakukan upacara pembukaan. Kegiatanpun resmi dibuka, saatnya untuk pasukan Barung Biru Putra dan Putri untuk berkompetisi dengan yang lain. Cuaca teras a panas hari itu, keringatpun mulai bercucuran. Meskipun begitu mereka tetap semangat demi meraih apa yang mereka impikan. Warung demi warung mereka lewati dengan lancar. Walaupun terkadang ada yang pusing dan kelelahan tetapi itu bukan halangan. Semangat harus terus berkobar sampai lomba selesai.
           Jam menunjukkan pukul 15.00 saatnya bagi para peserta lomba pesta siaga dari masing-masing perwakilan kecamatan untuk mengetahui pengumumam juara. Ketegangan tampak muncul pada setiap peserta, detak jantung terasa berdetak semakin kencang. Alhasil, dengan kerja keras dan dan kekompakkkan tim, akhirnya SD Negeri 1 Karangkobar dapat memperoleh juara. Barung Biru Putri memperoleh juara harapan 1 dan Barung Biru Putra memperoleh juara 2. Dengan begitu Barung Biru Putra berhak melanjutkan perjalanannya untuk berkompetisi di karisidenan Banyumas mewakili Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Banjarnegara bersama tim peraih juara 1 dan 3.  Tangis dan haru melengkapi kebahagian mereka. Merekapun pulang dengan perasaan gembira dan tanggung jawab besar untuk dapat memperoleh prestasi di tingkat yang lebih tinggi. 

Sabtu, 20 Februari 2016

SD Negeri 1 Karangkobar Meraih Juara dalam Pesta Siaga Kwaran Karangkobar

Sabtu 30 Januari 2016 gerakan Pramuka Kwaran Karangkobar mengadakan Pesta Siaga. Pesta siaga diikuti oleh 33 SD/MI di kecamatan Karangkobar. Sebelum bertanding, siswa-siswi SD Negeri 1 Karangkobar atau yang lebih dikenal dengan Esdhika melakukan persiapan dari  jauh-jauh hari. Tujuannya agar persiapan lebih matang dan maksimal. Setiap hari siswa siswi berlatih dengan giat dibantu oleh guru-guru yang membimbing pada masing-masing cabang yang dilombakan. 
Pesta siaga ini terdiri dari 11 cabang perlombaan, diantaranya yaitu ketaqwaan, semangat barung, kereta bola basket, kepribadian, pengetahuan umum, simpul, kompas, bhakti sosial, parade puisi dan geguritan, pentas seni patriotisme, dan bakti sosial (bumbung pramuka). Semua cabang tersebut harus dikuasai oleh siswa-siswi Esdhika yang terdiri dari 4 Barung yaitu 1 Barung Biru Putra dan 1 Barung Biru Putri sebagai tim inti serta 1  Barung Merah Putra dan  1 Barung Merah Putri.
Alhamdulillah dengan kerja sama antara siswa-siswi dengan Kepala Sekolah, guru serta berbagai pihak, keempat barung yang diturunkan semuanya dapat meraih juara dan membawa pulang piala. Juara yang diaraih antara lain:
1. Juara 1 untuk barung Biru Putri
2. Juara 1 untuk barung Biru Putra
3. Juara 2 untuk barung Merah Putri
4. Juara 3 untuk barung Merah Putra.
    Dengan demikian, Barung Biru Putra dan Putri dari Esdhika akan mewakili Kwaran Karangkobar dalam pesta siaga di tingkat kabupaten Banjarnegara. Dengan doa dan usaha yang keras semoga SD Negeri 1 Karangkobar dapat meraih juara ditingkat Kabupaten dan dapat melanjutkan perjuangannnya untuk tingkat selanjutnya.
Semangat Esdhika.



Senin, 11 Januari 2016

Peran Perpustakaan sebagai Sarana Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Penunjang Kegiatan Belajar Peserta Didik

Menurut Hendyat Soetopo (1982:173) perpustakaan sekolah adalah “perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah bermaksud untuk menunjang program belajar dan mengajar di lembaga pendidikan formal”.
Perpustakan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan dan penunjang kegiatan belajar siswa memegang peranan yang sangat penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Penyelenggaraan perpustakaan sekolah bukan hanya untuk menyimpan buku-buku, tetapi dengan adanya penyelenggaraan perpustakaan sekolah diharapkan dapat membantu peserta didik dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar. Oleh sebab itu buku-buku yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dapat menujang proses belajar mengajar, maka dalam pengadaan buku hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang dipakai oleh sekolah, serta selera para pembaca yang dalam hal ini adalah peserta didik.
Dalam era globalisasi saat ini, pemerolehan pengetahuan tidak hanya didapat dari proses pembelajaran saja. Selain pembelajaran dikelas perlu adanya sarana penunjang. Pengadaan perpustakaan di sekolah khususnya di SD Negeri 1 Karangkobar ini dianggap perlu mengingat peribahasa “Buku adalah jendela dunia”. Melalui pengadaan buku-buku yang menunjang pelajaran, peserta didik diarahkan membiasakan gemar membaca untuk mengembangkan pengetahuannya dan memperluas wawasan yang dimiliki oleh peserta didik.
Secara terperinci, manfaat perpustakaan bagi peserta didik adalah sebagai berikut:
1.   Perpustakaan dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik
2.   Perpustakaan dapat meningkatkan kecintaan membaca pada peserta didik
3.   Peppustakaan dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik
4.   Perpustakaan dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk peserta didik
5.   Perpustakaan dapat melatih peserta didik untuk bertanggung jawab
6.   Perpustakaan dapat membantu peserta didik dalam hal menyelesaikan tugas.

Berikut adalah langkah-langkah menarik minat baca peserta didik terhadap perpustakaan:
1.   Selalu memperbarui koleksi bahan pustaka yang ada di perpustakaan.
2.   Terdapat pustakawan (tenaga perpustakaan) yang ramah, terdidik, bertanggung jawab, dan professional.
3.   Membuat ruang perpustakaan agar bisa menjadi tempat yang senyaman mungkin bagi peserta didik.
4.   Perpustakaan juga menyediakan bacaan yang menghibur tapi tetap edukatif, seperti majalah pendidikan

Rabu, 18 November 2015

GAYA BAHASA (MAJAS)


Gaya bahasa (majas) penegasan

1.
 Majas Pleonasme Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk memperjelas maksud dengan menggunakan kata berulang dan maknanya sudah dikandung oleh kata yang mendahului.
Contoh: Burung itu sudah naik ke atas kemudian turun ke bawah lagi.

2.
 Majas Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk melukiskan keadaan secara berlebihan
Contoh: Anak tiu berlari sangat cepat bagai kilat

3.
 Majas Litotes
Dipakai untuk melukiskan hal sekecil-kecilnya utnuk merendahkan diri.
Contoh: Terimalah pemberianku yang tidak berharga ini.

4.
 Majas Repetisi
Adalah gaya bahasa mengulang kata-kata tertentu beberapa kali. Gaya ini sering digunakan dalam berpidato
Contoh: Jangan ragu-ragu Saudara, selama matahari masih beredar, selama bulan masih bersinar dan selama hayat masih dikandung badan saya akan memperjuangkan hak rakyat.

5.
 Majas Klimaks
Adalah gaya bahasa yang menggunakan sesuatu secara berturut-turut makin lama makin memuncak.
Contoh: Jangankan seratus ribu, lima ratus ribu atau satu juta, satu miliar pun kalau dijual akan aku beli.

6.
 Majas Antiklimaks
Adalah gaya bahasa yang menyebut sesuatu secara berturut-turut makin lama makin menurun.
Contoh: Apalagi setahun, sebulan atau semingu, sehari saja dia tidak akan meninggalkanmu.

7.
 Majas Asidenton
Adalah gaya bahasa yang melukiskan beberapa hal secara terurai tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh: Besar, kecil, tua, muda semuanya hadir dalam acara pembukaan sekaten.

8.
 Majas Polisindenton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan beberapa hal dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh: Sebelum berangkat ke sekolah pagi itu, saya menyapu lantai dan mengepelnya kemudian saya mandi dan sarapan pagi.

Rabu, 30 September 2015

STANDAR PENILAIAN KURIKULUM 2013



             Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah, yang diuraikan sebagai berikut. 
  1. Penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara  komprehensif untuk menilai mulai  dari masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran.
  2. Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan.
  3. Penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya pada sikap/perilaku dan 
  4. Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil 
  5. Ulangan harian merupakan kegiatan yang dilakukan secara periodic untuk menilai kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. 
  6. Ulangan tengah semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
  7. Ulangan akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.
  8. Ujian Tingkat Kompetensi yang selanjutnya disebut UTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
  9. Ujian Mutu Tingkat Kompetensi yang selanjutnya disebut UMTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UMTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
  10. Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN merupakan kegiatan pengukuran kompetensi tertentu yang dicapai peserta didik dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan, yang dilaksanakan secara nasional.
  11. Ujian Sekolah/Madrasah merupakan kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi di luar kompetensi yang diujikan pada UN,

B. Prinsip dan Pendekatan Penilaian 
          Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah  didasarkan  pada prinsip-prinsip sebagai berikut. 

Standar Proses Pembelajaran Kurikulum 2013



          Berdasarkan standar proses pembelajaran pada implementasi Kurikulum 2013, maka guru harus melaksanakan 3 tahapan yaitu:
  • kegiatan pendahuluan
  • kegiatan inti
  • kegiatan penutup.
A. Kegiatan Pendahuluan pada Proses Pembelajaran Kurikulum 2013
     Kegiatan pendahuluan yang harus dilakukan oleh guru berdasarkan amanat Kurikulum 2013 adalah:
  1. Kegiatan yang mula-mula harus dilakukan oleh guru pada kegiatan pendahuluan di dalam sebuah proses pembelajaran adalah mempersiapkan siswa baik psikis maupun fisik agar dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
  2. Selanjutnya guru harus mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan terkait materi pembelajaran baik materi yang telah siswa pelajari serta materi-materi yang akan mereka pelajari dalam proses pembelajaran tersebut.
  3. Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan, guru kemudian mengajak siswa untuk mencermati suatu permasalahan atau tugas yang akan dikerjakan sehingga dengan demikian mereka akan belajar tentang suatu materi, kemudian langsung dilanjutkan dengan menguraikan tentang tujuan pembelajaran atau KD yang akan dicapai pada pembelajaran tersebut.
  4. Terkahir, dalam kegiatan pendahuluan guru harus memberikan outline cakupan materi serta penjelasan mengenai kegiatan belajar yang akan dilakukan oleh siswa untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas yang diberikan.

Selasa, 29 September 2015

CERPEN KARYA SISWA

RELA
Karya. Nita Puji L.


Pagi itu cuaca cukup cerah, Matahari bersinar terik.  Gadis kecil berjalan menyusuri lorong gang sempit. Ya, gadis itu bernama Alifah. Dengan sepatu lusuhnya dia berjalan dengan penuh semangat menuju sekolah yang cukup jauh dari rumahnya. Perjalanan cukup melelahkan, namun tak menyurutkan niatnya. 
Sesampainya di sekolah dia langsung menaruh tas bututnya di kelas. Alifah berlari menuju lapangan untuk bergabung dengan teman-temanya yang telah lebih dahulu bermain. Alifah cukup populer di kalangan teman-temanya. Tanpa ragu dia langsung bergabung dengan tamannya bermain petak umpet. Maklum anak desa mereka masih familiar dengan permainan tradisional.
Teeeettttt, teeettttt, teeetttttt....... bel sekolah berbunyi.... Anak-anak berlarian menuju kelas masing-masing. Alifah juga dengan nafas terengah-engah dia duduk di bangkunya. Keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya. Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki Pak Doni guru kelas VI. Dalam genggaman pak Doni nampak amplop besar sebuah pengumuman hasil ujian. Dag, dig dug rasa dalam hati semua anak penuh cemas.... 
"Anak-anak, hari inilah yang kita tunggu, hasil ujian telah tiba" ucap pak Doni menambah kecemasan anak-anak. Pak Doni mengumumkan peringkat nilai terbaik dalam kelas. Ternyata Alifah tidak bisa meraih peringkat tiga besar. Dia sangat kecewa karena selama ini dia telah belajar keras. Biasanya dia selalu meraih peringkat dua atau tiga. Dengan wajah penuh kasih sayang pak Doni menghiburnya. Pak Doni berkata bahwa ujian bukan satu-satunya jalan untuk menunjukkan prestasi. Masih jauh perjalanan Alifah untuk meraih masa depan. Alifah menerima dengan sabar.... 

Tunjangan Setifikasi Guru akan dihapus

Spirit Guru- mengutip berita dari koran-sindo.com bahwa Pemerintah berencana menghapus tunjangan profesi guru (TPG). Dengan peniadaan itu, ke depan guru hanya akan menerima tunjangan kinerja setelah melalui pengujian.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sumarna Surapranata mengatakan, dasar penghapusan TPG karena tidak semua guru berkinerja bagus meskipun telah mendapat tunjangan itu. Kemendikbud pun menggariskan bahwa insentif kepada guru akan diberikan sesuai dengan kompetensi dan kinerja.

”Ini artinya TPG harus disesuaikan. Pemerintah ingin secepatnya insentif berbasis kompetensi dan kinerja itu( direalisasi),” katanya di Jakarta kemarin. Pranata menerangkan, penghapusan TPG sah dilakukan mengingat dalam Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) disebutkan bahwa besaran gaji PNS tergantung pada kinerja. ”Ke depan, tunjangan harus disesuaikan dengan tiga komponen uji yang akan dilakukan Kemendikbud, yakni penilaian kinerja guru (PKG), uji kompetensi guru (UKG), dan prestasi siswa,” ujarnya.

Pranata melanjutkan, reformasi tunjangan guru akan dimulai tahun ini dengan penerapan UKG pada 19 November- 27 November. Selain itu akan dilaksanakan pula penilaian kinerja guru untuk memastikan kualitas dan transparansi evaluasi kinerja mereka. Dua hal itu akan menjadi menu pada pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB). ”Jadi rapor guru nantinya harus terdiri atas PKG, UKG, dan prestasi belajar. Adanya PKB ini merupakan terobosan baru pelatihan guru,” ujarnya.
Guru besar FakultasI lmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Hafid Abbas menilai sertifikasi guru melalui portofolio dan pelatihan 90 jam tak lebih dari formalitas belaka. Guru tidak dilatih, melainkan hanya diberi sertifikat secara cuma-cuma. Hafid mendukung revisi sertifikasi guru karena tidak memberi dampak perbaikan atas mutu pendidikan nasional.

Padahal penyelenggaraannya telah menguras 2/3 dari total anggaran pendidikan yang mencapai 20% APBN. ”Pada 2010 biaya sertifikasi mencapai Rp110 triliun. Namun Bank Dunia memublikasi guru yang sudah sertifikasi dan yang belum ternyata menunjukkan prestasi yang relatif sama,” tuturnya.
Hafid menegaskan, ada tiga implikasi dari program sertifikasi yang mesti dibenahi. Pertama, Kemendikbud harus menghilangkan pola formalitas penyelenggaraan program sertifikasi guru. Kedua, kaitkan sertifikasi dengan pembenahan mekanisme pengadaan dan perekrutan calon guru di perguruan tinggi. Ketiga, sertifikasi guru harus diselenggarakan berbasis kelas.

Kamis, 24 September 2015

SK TPG TAHUN 2015

SK TPG muncul setiap 6 bulan sekali atau persemester untuk tahun 2015/2016 sebagai pembayaran 1 semester pada pencairan TPG Triwulan III dan IV sejak Juli sampai Desember 2015.

SKTP Semester 1 Tahun 2015/2016 dan data guru bisa anda cek di Laman Info PTK secara online. Untuk melihat Status penerbitan SKTP lihat dihalaman dibawah ini:

http://223.27.144.195:8081/
http://223.27.144.195:8082/
http://223.27.144.195:8083/
http://223.27.144.195:8084/
http://223.27.144.195:8085/


 
Cara login ke laman sebagai berikut:
Penerima Tunjangan Fungsional harus memenuhi syarat 24 jam tatap muka satu minggunya. Penerbitan SKTP sesuai dengan data yang dikirim melalui Aplikasi Dapodik.